
Oleh Hamidulloh Ibda
Tahun 2025 kemarin, keluarga besar Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung telah mengawali pelaksanaan nyadran di kampus. Tepatnya, Jumat 21 Februari 2025. Ramai. Merih. Unik. Mengapa? Ya, biasanya nyadran tidak di kampus. Namun, sejak 2025 dan tahun ini pun kita lanjutkan tradisi tersebut. Semua keluarga besar dan sivitas akademika INISNU Temanggung pun setuju. Semangat. Maka: Gas!
Menjelang Ramadan 1447 H, INISNU Temanggung pada hari ini, Jumat 30 Januari 2026 menyelanggarakan Nyadran Kampus Hijau. Tahun 2026 ini, Nyadran Kampus Hijau 2026 ini dirangkai dengan Haul Massal, Khotmil Quran, Launching Infak QRIS BSI untuk Masjid Al-Ittihad, dan dilanjutkan dengan Sarasehan Harlah NU ke-100 Masehi.
Di tengah suasana perguruan tinggi dan dinamika kehidupan modern, keluarga besar INISNU Temanggung kembali menggelar tradisi spiritual yang sarat makna melalui kegiatan Nyadran Kampus Hijau. Kegiatan yang memasuki penyelenggaraan kedua ini melibatkan berbagai elemen pendidikan dan komunitas Nahdlatul Ulama, mulai dari Akper Alkautsar, TK ELPIST, MI ELPIST, KBIHU Babussalam NU, hingga LP Ma’arif NU PCNU Temanggung, BPP INISNU dan YAPTINU Temanggung.
Sejumlah Lembaga yang turun andil dalam nyadran ini membuktikan nyadran tidak sekadar praktik kultural lokal bahkan lokal sekali, namun telah berkembang menjadi ruang temu spiritual dan sosial lintas lembaga dalam satu ekosistem pendidikan keislaman ala Alussunnah Waljamaah Annahdliyah.
Nyadran dan Dinamikanya
Sebenarnya, sudah banyak tulisan saya yang berat dan yang ringan mengkaji nyadran. Seperti Penguatan Tasawuf Sosial Lewat Nyadran, Nyadran di Sekolah dan Madrasah, Nyadran dan Penguatan Nasionalisme, Nyadran Jelang Ramadan, Bukan Kemusyrikan, Nyadran, Dugeran, Dandangan, Dugderan: Ekspresi Warga Semarang Sambut Ramadan, Penguatan Nilai-Nilai Sufisme Dalam Nyadran Sebagai Khazanah Islam Nusantara, dan lainnya yang tak terklipingkan.
Nyadran sudah membumi, dan di masyarakat Jawa, dikenal luas secara tradisional sebagai praktik ziarah ke makam (kuburan), punden, atau maqbarah leluhur yang hidup dalam budaya pedesaan khususnya di Jawa. Praktik nyadran ini sudah lama, dan dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu, waliyullah, orang suci, kiai, pengiriman doa, serta wasilah untuk menjaga kesinambungan memori kultural antargenerasi. Akan tetapi, uniknya dalam konteks kampus, Nyadran Kampus Hijau menghadirkan transformasi makna tanpa kehilangan akar tradisinya.
Dalam konteks ini, INISNU Temanggung bukan diposisikan sebagai pengganti makam atau punden, melainkan sebagai ruang simbolik tempat bertemunya kesadaran akademik, spiritualitas, dan kebersamaan sosial. Lingkungan kampus hijau, tertata, akademis, dan terbuka dimaknai sebagai ruang refleksi bersama, tempat pembersihan batin dan peneguhan niat kolektif dalam menyambut bulan suci Ramadan 1447 H.
Rangkaian kegiatan Nyadran Kampus Hijau dirajut secara terpadu antara dimensi ritual, sosial, dan inovasi akademis religius. Khotmil Qur’an dilaksanakan sebagai bentuk doa kolektif dan persiapan spiritual menjelang Ramadan, menghadirkan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi nilai. Haul massal menjadi momentum untuk mendoakan para ulama dan leluhur pendiri, sekaligus memperkuat kesadaran historis dan kontinuitas nilai keilmuan serta keagamaan. Di saat yang sama, launching QRIS Masjid Al-Ittihad INISNU Temanggung menandai ikhtiar adaptasi institusi keagamaan terhadap perkembangan teknologi digital, khususnya dalam mendukung kemudahan berinfak dan bersedekah.
Begitu juga penyerahan bantuan dari Bank Syariah Indonesia (BSI) kepada INISNU Temanggung melalui Masjid Al-Ittihad makin menegaskan betapa pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan lembaga keuangan syariah dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan dan berbasis nilai yang jelas tersebut.
Mengapa Nyadran Kampus?
Nyadran Kampus Hijau dapat dimaknai sebagai praktik ritual yang memiliki fungsi sosial dan simbolik yang kuat. Dalam buku The Ritual Process: Structure and Anti-Structure, Victor Turner (1969) berargumen ritual bukan sekadar seremonial, melainkan proses sosial yang melahirkan apa yang ia sebut sebagai communitas, yakni rasa kebersamaan egaliter yang muncul ketika individu-individu terlibat dalam pengalaman simbolik yang sama.
Dalam konteks ini, Nyadran Kampus Hijau berfungsi sebagai rite of intensification yang memperkuat solidaritas kolektif di tengah komunitas kampus yang majemuk, menyatukan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, guru TK Elpist, guru MI Elpist, aktivis Ormawa, dan mitra kelembagaan dalam satu pengalaman religius bersama. Apik tenan to?
Pierre Bourdieu (1977) dalam Outline of a Theory of Practice memandang sebuah praktik budaya, termasuk nyadran sebagai sesuatu yang tertanam dalam kebiasaan sosial dan secara perlahan membentuk metode berpikir, dan bertindak suatu komunitas tertentu. Secara sederhana, dapat disebut Nyadran Kampus Hijau bukan sekadar reproduksi tradisi desa, tradisi lokal, tradisi kuno, yang dipindahkan ke ruang akademis, melainkan sebagai bentuk proses internalisasi nilai yang melahirkan habitus baru. Habitus dalam konteks ini menempatkan spiritualitas sebagai bagian integral dari kehidupan akademik, sehingga instusi Pendidikan tinggi tak sekadar menjadi ruang produksi ilmu, sains, teknologi, novelty, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kesadaran religius yang kontekstual bahkan kontemporer melihat perkembangan zaman.
Emile Durkheim (2001) dari sudut pandang sosiologi agama, melalui buku bertajuk The Elementary Forms of the Religious Life menegaskan sebuah ritual memiliki fungsi utama sebagai perekat sosial. Lewat ritual tersebut, nilai-nilai bersama ditegaskan kembali dan solidaritas sosial diperkuat. Kombinasi acara khotmil Qur’an, haul massal, dan doa bersama dalam Nyadran Kampus Hijau mengilustrasikan bagaimana Islam bekerja sebagai kekuatan kolektif yang menyatukan (nyawiji), meneguhkan identitas bersama, dan membangun rasa memiliki (handarbeni) terhadap komunitas kampus dan nilai-nilai yang diidealismekan. Inilah yang saya sebut sebagai implementasi filosofi “memayu hayuning bawana.” Kira-kira begitu lah!
Uniknya Nyadran Kampus Hijau terletak pada kemampuannya mengintegrasikan tradisi dan inovasi secara harmonis. Praktik ritual yang berakar pada budaya lokal dipadukan dengan teknologi digital melalui sistem QRIS masjid, sementara dimensi spiritual berjalan seiring dengan penguatan jejaring sosial dan kelembagaan. Hal ini menunjukkan bahwa religiusitas tidak harus berhadap-hadapan dengan modernitas, melainkan dapat tumbuh adaptif dan relevan di tengah perubahan zaman.
Nyadran Kampus Hijau, bagi saya setidaknya dapat menjadi contoh konkret bagaimana tradisi keagamaan dapat berevolusi tanpa kehilangan makna dasarnya. Ia hadir sebagai ruang refleksi, penyatuan sosial, dan aktualisasi spiritual di lingkungan tinggi yang dinamis. Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, kegiatan ini bukan hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga manifestasi budaya religius yang kontekstual, progresif, dan berakar kuat pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta tradisi Nahdlatul Ulama.
Dari Kuburan ke Kampus
Fenomena Nyadran Kampus memang “juarang” sekali. Bisa jadi PTNU lain ada, namun belum banyak. Bagi saya, ini merupakan ekspresi sosial-keagamaan yang lahir dari kebutuhan komunitas pendidikan tinggi untuk menjaga kesinambungan makna antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tradisi ini tidak muncul secara kebetulan, makbedunduk, melainkan berangkat dari kesadaran kolektif bahwa kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan juga membutuhkan jangkar spiritual dan kultural agar tidak tercerabut dari akar sejarah dan nilai-nilai yang membentuknya secara lama. Perpindahan ruang nyadran dari kuburan dan punden ke lingkungan kampus bukanlah penghilangan makna, melainkan perluasan ruang sakral ke dalam dunia akademik.
Maurice Halbwachs (1992) lewat buku On Collective Memory, dapat ditinjau dari perspektif memori kolektif, bahwa identitas suatu kelompok dibangun melalui cara mereka mengingat masa lalu secara bersama-sama. Memori dalam hal ini tak berdiri secara individual, tetapi dibingkai oleh ruang sosial tempat sebuah komunitas hidup dan beraktivitas. Dalam konteks ini, penyelenggaraan haul massal di INISNU Temanggung dapat dibaca sebagai upaya membangun jembatan spiritual antara para pendahulu, pendiri, dan sesepuh Nahdlatul Ulama dengan generasi akademik masa kini.
Perguruan tinggi tidak lagi diposisikan semata-mata sebagai ruang rasional, administratif, dan teknokratis, melainkan juga sebagai ruang sakral yang menghargai sejarah, jasa, dan nilai perjuangan para pendahulu. Dengan demikian, memori kolektif NU tidak hanya hidup di makam, pesantren, atau langgar desa, tetapi juga bersemayam dalam denyut kehidupan akademik, ruang kelas, dan aktivitas keilmuan.
Nyadran Kampus Hijau, dengan kehadiran berbagai lembaga seperti Akper, TK dan MI, KBIHU, LP Ma’arif NU, BPP INISNU, YAPTINU, menunjukkan bagaimana ritual berfungsi sebagai perekat sosial yang efektif. Struktur kelembagaan yang biasanya terbingkai dalam relasi formal dan birokratis dilebur dalam suasana kebersamaan yang lebih emosional dan spiritual. Kampus tidak lagi dipersepsi sebagai institusi yang kaku, tetapi menjelma menjadi rumah besar keluarga Nahdliyin yang terhubung oleh nilai, doa, dan tujuan bersama.
Dari sudut pandang sinkretisme dan modernitas, pemikiran Eric Hobsbawm (1992) melalui The Invention of Tradition memberi kerangka untuk memahami bagaimana tradisi sering kali dimodifikasi atau diciptakan ulang guna menjawab tantangan zaman baru tanpa kehilangan esensi lamanya. Nyadran Kampus Hijau mencerminkan dinamika ini secara nyata.
Peluncuran QRIS Masjid Al-Ittihad yang dirangkai dalam ritual nyadran menjadi simbol adaptasi budaya Nahdliyin terhadap era digital. Tradisi metafisik berupa doa, khotmil Qur’an, dan haul berjalan seiring dengan penerimaan teknologi finansial modern. Praktik ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhadap-hadapan dengan inovasi, melainkan dapat saling menguatkan. Di sinilah prinsip klasik NU, al-muhafadzatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, menemukan relevansinya dalam praktik sosial yang konkret dan kontekstual.
Rangkaian Nyadran Kampus Hijau menegaskan upaya INISNU Temanggung dalam mengintegrasikan ilmu dan amal secara harmonis yang juga refleksi akademis pada peringatan Harlah NU ke-100 M. Dimensi spiritual dihadirkan melalui khotmil Qur’an dan haul, dimensi kemanusiaan dan pendidikan diperkuat melalui keterlibatan LP Ma’arif NU serta unit-unit pendidikan dasar, sementara dimensi ekonomi diwujudkan melalui kemitraan dengan BSI. Integrasi ini menunjukkan bahwa spiritualitas, pendidikan, dan ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menopang dalam satu ekosistem nilai yang utuh.
Nyadran Kampus Hijau menjelang Ramadan 1447 Hijriah bukan sekadar pemindahan lokasi ritual dari makam ke gedung kampus. Hehehe. Namun bagi saya, nyadran merupakan ikhtiar membumikan nilai-nilai pesantren ke dalam ruang akademis, menjadikan perguruan tinggi sebagai ruang yang hidup secara intelektual sekaligus berdenyut secara spiritual.
Bagi saya, atau klaim saya, inilah bentuk, metode, wasilah, alat, wahana, atau cara yang elegan dan reflektif dalam menyambut bulan suci Ramadan 1447 H mendatang, dengan hati yang dibersihkan melalui doa, ingatan yang dijernihkan oleh sejarah, dan kesiapan untuk merangkul teknologi sebagai bagian dari ikhtiar kemaslahatan bersama. Ada pendapat lain? Boleh kok!