
Refleksi Hari Pendidikan Internasional
Oleh Hamidulloh Ibda
Pada Sabtu 24 Januari 2026, kita memeringati Hari Pendidikan Internasional. Nah, tentu beda dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di republik ini. Apa yang perlu kita refleksikan?
Sejak saya menjadi dosen, awal 2017, gagasan World Class University (WCU) sudah menggema. Di mana-mana. Banyak kampus mengejar rangking 10, 100, 100 di dunia. Entah melalui QS World University Rankings, Webometrics Global Web Rankings for Universities, AD Scientific Index, atau yang lain.
Bahkan, kampus cuilik juga dipaksa menuju ke WCU itu, bukan WC Umum ya. Dengan status, pendanaan, dan kekuatan berbeda, namun semua kampus dipaksa menuju ke sana semua: WCU. Aneh nggak?
Jika disederhanakan, WCU ini memiliki indikator peringkat global, publikasi bereputasi internasional (terindeks Scopus/WoS), jejaring akademik lintas benua dan negara, bahkan dunia dan akhira. Hehe
Dalam perspektif manajemen pendidikan tinggi, WCU sejatinya berangkat dari good university governance (tata kelola yang unggul), kepemimpinan visioner, budaya mutu yang istikamah, dan kemampuan institusi mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi kemaslahatan umat dan bangsa. Teori strategic management dalam pendidikan tinggi menegaskan bahwa keunggulan universitas tidak hanya diukur dari output akademik, tetapi dari outcome dan impact sosialnya. Kampus kelas dunia adalah universitas yang bisa menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, inkubator inovasi, sekaligus penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam konteks inilah, WCU tidak boleh dimaknai sebagai imitasi Barat, melainkan proses kontekstualisasi global dengan identitas lokal. Saya sangat setuju ini!
Internasionalisasi Kampus
Internasionalisasi perguruan tinggi realitasnya sering direduksi pada kerja sama luar negeri, pertukaran mahasiswa, atau kelas berbahasa asing. Padahal, teori internationalization at home menekankan bahwa internasionalisasi adalah proses internalisasi perspektif global ke dalam seluruh fungsi Tridarma, termasuk kurikulum, riset, pengabdian, dan tata kelola.
Saya sependapat dengan Rhenald Kasali dalam bukunya Strawberry Generation (2018) dan The Great Shifting (2018). Dalam kedua buku itu, Prof Rhenald mengritik model pendidikan yang terlalu kaku dan administratif. Artinya, Prof Rhenal menyoroti bahwa WCU bukan sekadar urutan ranking di atas kertas, melainkan universitas yang memiliki tiga peran utama. Pertama, pusat produksi ilmu yang melahirkan pengetahuan baru yang relevan dengan zaman. Kedua, inkubator inovasi, yaitu menjadi tempat lahirnya solusi praktis bagi industri dan masyarakat. Ketiga, penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, kampus wajib memastikan teknologi dan inovasi tetap berada dalam koridor etika dan kemaslahatan manusia.
Dalam konteks saat ini, konsep manajemen strategis kini bergeser dari model tradisional ke arah High-Impact University. Makanya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggaungkan program “Diktisaintek Berdampak” dalam rangka mentransformasi kampus-kampus di Nusantara agar lebih berorientasi pada hasil nyata, berkontribusi langsung pada kesejahteraan rakyat, penguatan ekonomi berbasis riset, inovasi, dan kemandirian teknologi nasional, bukan sekadar menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga menjadi solusi masalah sosial dan ekonomi, dengan menekankan kolaborasi riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat.
Bagi INISNU Temanggung sendiri, saya memaknai internasionalisasi harus dibangun di atas prinsip value-based internationalization, yaitu membuka diri terhadap dunia, namun tetap berpijak pada nilai Islam Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah. Internasionalisasi bukan tujuan akhir (ghayah), melainkan jalan (washilah) untuk memperluas kebermanfaatan institusi, meningkatkan kualitas akademik, dan memperkuat kontribusi pada perdamaian global.
Al-Khidmatul Khamsah
Keunikan INISNU Temanggung terletak pada Al-Khidmatul Khamsah (Pancadharma) sebagai kerangka etik dan operasional perguruan tinggi. Dalam perspektif manajemen strategis, Pancadharma bukan sekadar nilai normatif, tetapi core values yang mengarahkan kebijakan dan praktik institusional.
Pertama, pendidikan harus menegaskan kurikulum global, spirit lokal. Internasionalisasi pendidikan di INISNU Temanggung diarahkan pada penguatan kurikulum adaptif global yang berakar pada tradisi keilmuan Islam dan kebangsaan. Pembelajaran tidak hanya menyiapkan lulusan kompetitif secara global, tetapi juga berkarakter, beretika, dan berkomitmen pada kemaslahatan umat.
Kedua, penelitian harus menegaskan ilmu untuk kemanusiaan. Dalam paradigma research university, riset menjadi jantung WCU melalui peta jalan riset kampus, fakultas, dan program studi. INISNU Temanggung mendorong penelitian kolaboratif lintas negara yang relevan dengan isu global moderasi beragama, pendidikan Islam, keberlanjutan sekaligus solutif bagi problem lokal. Publikasi internasional tidak berhenti pada angka sitasi, tetapi pada dampak pengetahuan bagi masyarakat.
Ketiga, PkM harus memastikan global engagement, local impact. PkM menjadi wujud nyata internasionalisasi berbasis kebermanfaatan. Kolaborasi global dalam pengabdian diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal, memberdayakan pesantren, dan mengembangkan model pengabdian Islam transformatif yang dapat direplikasi secara internasional.
Keempat, penguatan kaderisasi NU sebagai identitas dalam arus global. Di tengah globalisasi pendidikan, kaderisasi NU menjadi jangkar identitas. INISNU Temanggung memandang bahwa kampus berkelas dunia justru membutuhkan akar ideologis yang kokoh. Kader NU yang berstatus mahasiswa melalui IPNU-IPPNU, PMII-KOPRI, KMNU, Fatayat atau Ansor yang berwawasan global adalah aset strategis: moderat, toleran, dan mampu berdialog dengan peradaban dunia.
Kelima, pengembangan peradaban Islam sebagai bentuk dari kampus untuk dunia. Internasionalisasi sejati bermuara pada kontribusi peradaban. INISNU Temanggung menempatkan pengembangan peradaban Islam sebagai visi jangka panjang: Islam yang rahmatan lil ‘alamin, berbasis ilmu, etika, dan keadilan sosial. Kampus menjadi episentrum dialektika antara tradisi dan modernitas.
Refleksi Hari Pendidikan Internasional ini menegaskan bahwa jalan menuju WCU tidak tunggal dan tidak instan. Bagi INISNU Temanggung, internasionalisasi adalah ikhtiar peradaban, proses panjang membangun kualitas akademik, memperluas jejaring global, sekaligus meneguhkan jati diri.
Dengan berlandaskan teori manajemen pendidikan tinggi dan berjiwa Al-Khidmatul Khamsah, INISNU Temanggung saya pastikan optimistis melangkah, yaitu menjadi kampus yang diakui dunia, tanpa kehilangan ruh pengabdian. Sebab pada akhirnya, perguruan tinggi kelas dunia adalah universitas yang menghadirkan ilmu untuk kemanusiaan, dan nilai untuk masa depan peradaban, bukan sekadar perangkingan. Ada pendapat lain?